Ketua IDI Terpilih Inginkan Perlindungan Profesi Dokter

Kesehatan  SABTU, 12 MEI 2018 , 15:17:00 WIB | LAPORAN: KENARYO

Ketua IDI Terpilih Inginkan Perlindungan Profesi Dokter

Foto: RMOLJateng

RMOLJateng. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Tengah punya ketua baru untuk periode 2018-2021. Dr Djoko Handojo, Msi Med, Sp B, Sp B (K) Onk, FICS resmi memimpin IDI Jateng menggantikan Widyanto.

Pengangkatan Djoko Handojo itu berdasarkan surat keputusan IDI bernomor 009843/PB/K.4/04/2018. Pelantikan itu dilakukan di Hotel Gumaya pada Sabtu (12/5).

"Hal yang saya soroti adalah regulasi dan infrastruktur kesehatan," kata Djoko Handoyo.

Terkait regulasi, hal yang jadi sorotannya adalah sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dinilai belum se-ideal pendidikan dokter. Menurutnya, banyak dokter yang tidak bisa melakukan lebih untuk menyehatkan pasien karena terkendala regulasi.

Djoko mencontohkan penanganan pasien di Unit Gawat Darurat yang kadang terbatasi aturan. Lalu, ketika ada masalah upaya dokter seringkali dibully.

"Misal ada obat yang tidak sesuai fornas padahal dibutuhkan pasien," tuturnya.

Di sisi lain, dokter spesialis bedah tersebut juga meminta perlindungan hukum yang lebih untuk profesi dokter. Ketika ada perlindungan hukum, maka dokter akan lebih nyaman dalam bekerja dan meningkatkan pelayanan pada pasien.

Ia menuturkan di dunia ini sebenarnya tidak ada yang namanya malpraktik. Tidak mungkin seorang dokter dengan sengaja menciderai pasiennya.

"Kemudian dari sisi infrastruktur kita juga masih mengalami ketertinggalkan. Misalnya bisa engga seluruh puskesmas di Jateng punya alat USG dan ECG," tuturnya.

Ia menyampaikan itu di seka-sela Pelantikan Pengurus Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Tengah Periode 2018-2021. Temanya adalah Pemantapan Kualitas Dokter Dalam Menunjang Independensi, Kesejawatan dan Kesejahteraan.

Ketua Umum IDI, Ilham Oetomo Marsis mengatakan, banyak tantangan di masa mendatang. Saat ini, pendidikan kedokteran sudah mencapai standar nasional. Namun, di masa depan harus standar ASEAN.

Ia menuturkan Masyarakat Ekonomi Asean jadi alasannya. Pada 2025 bakal ada pergerakan dokter di negara ASEAN. Setiap dokter di Asia Tenggara bisa bekerja di negara tetangga.

"Kalau dari sisi pendidikan kita masih kalah dari Singapura, Malaysia dan Thailand. Begitu juga infrastruktur," ujarnya. [hen]

Komentar Pembaca
Foto : Menggembalakan Hewan Ternak

Foto : Menggembalakan Hewan Ternak

SENIN, 09 APRIL 2018 , 12:56:00

Foto : Pembangunan Jalan Arteri Yos Sudarso Semarang
Foto : Tugu Monumen Kecelekaan

Foto : Tugu Monumen Kecelekaan

RABU, 11 APRIL 2018 , 14:16:00