Ironi Ibu Pertiwi

Catatan Jayanto  SENIN, 23 APRIL 2018 , 06:01:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Ironi Ibu Pertiwi

Jayanto Arus Adi

SUDAH sejak dulu kala negeri ini tersohor keseluruh penjuru dunia sebagai negeri kaya raya dengan penduduk gemah ripah loh jinawi. Saking kayanya, sampai-sampai negeri ini dijuluki jamrud khatulistiwa dan permata dari timur. Tanahnya subur hingga tongkat kayu pun -meminjam syair Koes- Plus tumbuh jadi tanaman. Gugusan pulaunya terbanyak di dunia hingga untuk menamakan dan memastikan jumlahnya kita 'angkat tangan' hingga hari ini banyak yang tak terdata dan tidak bernama.


Iklimnya hujan dan panas dengan perbedaan suhu hanya beberapa derajat dengan curah hujan hampir sepanjang tahun. Kalau mau bertani tidak perlulah menggunakan rumah kaca seperti di negara-negara Eropa dan Amerika supaya tanaman terlindung dari cuaca dingin dan beku. Lahan tidur dan gambut juga masih luas. Di Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi masih banyak tanah yang tidak terurus dan hanya ditumbuhi semak belukar. Diberi lapisan gambut oleh Tuhan supaya ribuan jenis pohon buah termasuk pohon tengkawang berumur ribuan tahun dengan diameter 3-4 meter tumbuh dengan subur.
           

Mungkin di lahan kita yang demikian luas hanya apel, kurma dan anggur yang tidak dapat tumbuh subur. Tetapi mengapa jeruk, jagung, padi dan bunga masih juga kita impor setiap tahun? Betul, kita sudah punya PT Perkebunan Negara (PTPN) yang mengolah puluhan juta hektar lahan untuk komoditas tanaman keras, seperti karet, coklat, tebu dan sawit.

           

Namun alangkah sayangnya bila hamparan luas lahan tersebut belum digarap secara maksimal. Seandainya para direktur PTPN itu punya ide untuk lebih  menggalakkan usaha perternakan rakyat, mungkin kita tidak pernah lagi mendengar cerita tentang ketergantungan pupuk, kedelai, daging atau beras impor. Di perairan kawasan pantai di seluruh wilayah Nusantara kita, misalnya,- ak saja kaya dengan ikan, namun juga biota dan biodervisitas laut lainnya. Potensi ekonomi bahari dari hasil ikan sehari-hari, seperti ikan gurapu, lobster, kepiting, udang kelong dan berbagai macam kekayaan laut menjadi primadona kelezatan kuliner, yang sangat potensial diolah menjadi komoditas ekspor.
           

Bisa dibuktikan secara sederhana; cukup hanya  berbekal pancing, jala dan pukat. Sekali lempar  ke laut, berkilo-kilo ikan segera terjaring dan tertangkap. Apalagi kalau ada yang terpikir membuat keramba, berbagai jenis ikan yang mahal-mahal dan berkelas ekspor melebihi kelezatan ikan salmon dapat dipelihara sebagai mata pencaharian.

           

Sungguh sedih kita apabila melihat berjuta hektar sungai dan laut tidak pernah dilirik anak bangsa untuk diproduktifkan. Kekayaan di dalam perut bumi pun tidak terkira kuantitas dan kualitasnya. Barang tambang dan mineral, seperti minyak bumi, emas, perak, batubara, gas alam, kaca, hingga uranium kita miliki. Dari segi kuantitas penduduk pun kita boleh 'tepuk dada'. Di ASEAN, kita yang terbesar. Di Asia, kita hanya kalah dengan China dan India. Secara ekonomi, jelas tidak ada dalil yang menyatakan kita tergolong negara miskin.

           

Namun faktanya, negara ini malah jatuh miskin dengan utang negara ribuan triliun dengan jumlah penduduk miskin sekian juta jiwa. Selain angka balita kurang gizi yang masih tinggi, lebih dari dua juta anak putus sekolah. Kemudian ratusan ribu mahasiswa terancam dropout, jutaan buruh terancam di PHK, 490 ribu usaha kecil bangkrut, 16 juta pengangguran baru. Di samping itu, setiap tahun ribuan anak bangsa berangkat ke luar negeri supaya dapat bekerja menjadi pembantu dan kuli. Mengapa hal itu dapat terjadi?
           

Apakah dunia pendidikan kita belum bisa menghasilkan ilmuwan yang trampil mengolah potensi alam kita ?  Begitu banyak sarjana yang menganggur, karena mereka tak bisa mengolah sumber daya alam sebagai nelayan, petani, atau peternak. Keahlian yang banyak diminati di bidang hukum, politik, pertanian, teknik elektro, teknik mesin, manajemen, akuntansi, teknik sipil, teknik kimia, ekonomi pembangunan, ilmu politik, dan sebagainya tidak ada hubungan dengan keramba, lahan tidur dan lahan gambut. Mungkin ketika kuliah di Jawa atau kota besar lainnya mereka tidak menjumpai sungai, sawah, dan gunung.
           

Berbagai seminar, skripsi, tesis dan disertasi juga selalu mengambil kasus potensi alam Pulau Jawa yang sudah terbatas. Jarang sekali potensi Pulau Kalimantan, Papua, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara dibahas tuntas dan kemudian ditindaklanjuti menjadi pilot project. Kalaupun ada hanya terdiri dari 'proyek-proyek' para dosen untuk mengejar sedikit dana penelitaian dan setelah selesai maka hasilnya hanya sebagai ’hiasan’ di rak-rak perpustakaan universitas.
           

Mungkin kelemahan dunia pendidikan kita adalah terlalu berkiblat ke negara maju, tidak berani mencoba kurikulum sesuai dengan potensi alam sendiri, merasa maju kalau sudah belajar dan menggunakan konsep dan kurikulum negara asing. Kalau sudah demikian mana mungkin referensi mereka yang berbahasa asing itu mengajarkan cara mengolah kekayaan alam ini. Sungguh menyedihkan dan itulah sebuah ironi di negara kaya.



Jayanto Arus Adi



Komentar Pembaca
Olah Raga Jadi Penanda

Olah Raga Jadi Penanda

MINGGU, 08 JULI 2018

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

SELASA, 19 JUNI 2018

Nasionalisme Indonesia : Heroisme vs Hororisme
SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

SELASA, 27 FEBRUARI 2018

Sihir korupsi

Sihir korupsi

SENIN, 05 FEBRUARI 2018

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

SABTU, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

JUM'AT, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

#VLOGNEWS: Upacara di UBK, Prabowo Dapat Star of Soekarno
Foto Penghitungan Suara

Foto Penghitungan Suara

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:40:00

TPS Horor Di Semarang

TPS Horor Di Semarang

RABU, 27 JUNI 2018 , 10:40:00

Pemadam Kebakaran Sirami Tanaman Kota

Pemadam Kebakaran Sirami Tanaman Kota

SENIN, 16 JULI 2018 , 17:03:00