Nasionalisme Indonesia : Heroisme vs Hororisme

Catatan Jayanto  JUM'AT, 23 MARET 2018 , 08:02:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

Nasionalisme Indonesia : Heroisme vs Hororisme

Jayanto Arus Adi

Reformasi bagi bangsa Indonesia seperti dua sisi mata pedang. Satu sisi reformasi memberi berkah yang luar biasa. Bangsa ini seperti terbebas dari belenggu yang 32 tahun memasung kreativitas dan kebebasannnya. Aspirasi publik selama itu nyaris tersumbat, sehingga komunikasi politik lumpuh, karena ruang artikulasinya terbatas. Soeharto dengan rezim Orba-nya memilih konsep pembangunan yang mengedapankan stabilitas yang menafikkan adanya perbedaan pendapat. Dalam konteks ini ambruknya Orba, seperti bendungan yang ambrol, air mengalir deras membawa apa saja.

Terkait dengan sisi di atas, mata pedang yang lain reformasi menjadi ancaman dengan berbagai catatan. Kita sepakat, kebebasan itu perlu, namun kebebasan yang kebablasan dampaknya jadi merusak. Maaf, seperti menyaksikan kecenderungan yang marak sekarang, menyampaikan pendapat, protes dan demo merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang lumrah. Tetapi jika saban hari yang terjadi demo, demo dan demo maka masyarakat pun akhirnya tidak simpatik. Apalagi demo yang anarkhis, memicu terjadinya destruksi fasilitas  umum jelas itu bukan tujuan reformasi.

Satu dasa warsa lewat reformasi terjadi, sampai detik ini kita menyaksikan euforia-eforia yang kebablasan. Gesek-gesekan antarelit politik, antarlembaga pemerintah, secara vertikal dan horisontal berada dalam kondisi kurang kondusif. Hiruk pikuk yang terjadi, termasuk perilaku politisi di lembaga legislatif, mulai tingkat dua sampai senayan semakin memperjelas arah reformasi yang tidak fokus.

Negeri ini seperti sedang kehilangan figur pemimpin. Bayangkan simbol-simbol negara tidak lagi dihormati, begitu pun alat-alat keamanan negara dalam proses dimarginalisasi karena kewenangan dan kekuasaannya dikebiri. Kecenderungan dan kondisi semacam itu membuat kewibawaan negara, kewibawaan pemerintah berada di posisi nadir.

Tragis memang, karena interaksi yang terbangun dan terjadi kemudian menjadi sangat artifisial. Relasi pemerintah dan masyarakat terjebak dalam hubungan yang kaku, Komunikasi yang terjadi tidak dalam bingkai yang mampu menghadirkan pemahaman bersama, tetapi sikap apolitis, apriori dan penuh kecurigaan. Kemarahan-kemarahan yang mudah meledak, kecamuk yang mudah terbakar terjadi karena harmoni antarelemen bangsa ini mengalami perapuhan.
Letupan-letupan lain, seperti menyikapi fenomena sosial yang muncul acapkali mengundang keprihatinan. Fanatisme korps, primordialisme yang mengemuka dan mengedepankan entitas tertentu, kemudian kebanggaan kelompok di luar batas rasionalitas seringkali memicu terjadinya konflik horisontal. Tragedi Sampit, Sampas dan Ambon yang naif sungguh menjadi potret buram dari pincangnya keberagaman bangsa ini. salah kaprah. Sangat tidak bisa dipahami akal sehat hanya gara-gara sepak bola jatuh korban jiwa. Apalagi ulah bonek acapkali melakukan tindakan destruktif, seperti melempari rumah-rumah penduduk di sepanjang lintas Kereta Api yang ditumpanginya.

Jika sudah begini, siapa yang mesti menanggung akibatnya. Kita sendiri bukan, makanya aneh, mengapa akal sehat seringkali tiba-tiba tumpul dan menjadi beringas oleh persoalan yang sangat sepele.

Lalu mau dibawa ke mana masa depan negeri ini, kalau kita tak bisa bersikap dewasa memaknai keberagaman. Fanatisme adalah baik, jika implementasinya ditempatkan pada ruang yang benar. Reformasi bukanlah membuat kehidupan menjadi kembali ke zaman baheula yang tak beraturan. Demokrasi juga bukan pamer kekuatan karena dukungan semata-mata bisa dibeli. Herorisme adalah semangat yang perlu dipupuk untuk menjaga elan kebersamaan atas nama bangsa. Belakangan kita merasakan situasi yang mencekam menyaksikan potret bangsa ini dalam banyak wajah dan sendi-sendi kehidupan yang ada. Kearifan merapuh, kebersamaan memudar, tata krama tak berlaku lagi, tenggang rasa semakin tak ada dan yang terjadi adalah carut marut seperti sekarang.


Sumpah Pemuda Jilid II

Ya Sumpah Pemuda. Ikrar yang dicanangkan pendahulu kita 86 tahun silam tepat menjadi momentum untuk meneguhkan kembali spirit ke-Indonesiaan itu. Kita haus spirit persatuan yang mempersatukan. Nasionalisme yang memayungi warga bangsa ini dalam nafas ke-Indonesiaan. Karena jujur reformasi yang mestinya berkah, telah mengkoyak menjadi monster yang meneror.
 
Kita sepakat satu dasa warsa terakhir dan sampai detik ini masih berlangsung satu masa yang merupakan masa transisi. Karenanya wajar seringkali muncul distorsi-distorsi ang terkadang terlalu mengerikan. Euforia yang terjadi disadari atau tidak seringkali kebablasan. Itulah yang perlu disadari karena salah-salah Indonesia akan semakin porak poranda.

Pertanyaan yang layak dikedepankan, sekarang ini masih adakah nasionalisme untuk bangsa Indonesia. Mari kita masing-masing merenung, selama ini kita berjuang untuk siapa? Jika untuk kepentingan bangsa, bangsa yang mana, jika untuk kepentingan rakyat, rakyat yang mana? Kita rasanya telah tersesat di dalam hutan rimba yang membuat rasa saling asing. Atau mungkin kita sedang tenggelan di dalam lautan, sehingga tak dapat melihat dunia seutuhnya.
Untuk itulah ketika ada saat jeda, momentum Sumpah Pemuda 82 tahun silam perlu dibangkit, disegarkan, dan ditanamkan kembali pada lubuk hati kita masing-masing.

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan kekuatan pemersatu bangsa dalam rangka memerdekakan Indonesia. Ikrar: satu bahasa, bahasa Indonesia merupakan kekuatan pemersatu . Kini Indonesia sudah merdeka dan Sumpah Pemuda sudah berusia 82 tahun. Apakah ikrar satu bahasa bahasa Indonesia masih memiliki kekuatan membangun rasa nasionalisme Indonesia?

Apakah bangsa Indonesia merasa menjadi bangsa Indonesia? Mencermati fenomena dalam praktik kebahasaan misalnya, sering kita menyaksikan realitas yang miris. Benar, sehari-hari bangsa Indonesia memang berbahasa Indonesia dan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan mereka pun kadang lebih fasih dan memahami bahasa Indonesia daripada bahasa daerahnya. Dalam pergaulan di berbagai tempat digunakan juga bahasa Indonesia. Namun fenomena saat ini menunjukkan fungsi bahasa Indonesia tidak lagi sama seperti dalam sejarah Sumpah Pemuda tahun 1928. Rasa memiliki bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia masih belum maksimal.
  
Penilaian yang rendah terhadap bahasa Indonesia masih kelihatan pada bangsa Indonesia. Kegemaran bangsa Indonesia memakai istilah asing dan tidak mencoba menggali kosa kata bahasa Indonesia merupakan indikasi ke arah ini. Bahkan, bahasa Indonesia tidak lagi sebagai alat pemersatu, tetapi sebagai alat pemecah belah bangsa.     Pendekatan kebahasaan dalam politik menjadi penting bagi kelanggengan sebuah kekuasaan. Bahasa menjadi strategi dan ekspresi kekuasaan untuk memberikan pemahaman kepada rakyat bahwa mereka adalah penguasa yang terbaik. Pola pemikiran masyarakat didikte melalui bahasa. Bahasa pun tidak lebih hanya sebagai sebuah ruang bagi pergelaran kekuasaan. Sebagai sebuah strategi, bahasa yang digunakan penguasa untuk mengekalkan kekuasaannya ada beberapa bentuk.
  
Penggunaan bahasa dalam konteks di atas, dapat dilihat pada kecenderungan yang marak, seperti labelisasi bentuk-bentuk kegiatan yang kemudian dipersepsikan secara negatif. Gerakan gerakan yang diberi label untuk membangun opini negatif antara lain muncul istilah seperti Gerakan Pengacau Keamanan (GPK). Ada lagi, penyebutan organisasi yang mengeritik pemerintah diberi nama Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) dan lain-lain.

Bahasa merupakan alat komunikasi sosial. Hubungan komunikasi itu terjadi apabila ada kesepadanan pemahaman terhadap isi yang dikomunikasikan dan ada keharmonisan kondisi hubungan tehadap komunikasi yang dilakukan.

Kemampuan berbahasa sebagai wahana pengungkap perasaan tentunya diharapkan berkembang selaras dengan dinamika kehidupan. Salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan bahasa sebagai sarana ekspresi pikiran, perasaan dan kemauan penutur adalah dengan terus menerus mengembangkan dan membina bahasa negara.
  
Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa di dunia yang memiliki beban berat mengungkap pikiran, perasaan, dan kemauan penutur yaitu bangsa Indonesia. Suatu bangsa yang dikenal memiliki banyak ragam etnik, suku, adat, dan keunikannya, yang tentu sangat mewarnai retorika berbahasa Indonesia, baik berbahasa Indonesia dalam keseharian, dalam situasi formal, maupun dalam bersastra. Bila diperhatikan ternyata mengembangkan dan membina bahasa Indonesia merupakan aktivitas yang bukan hanya penting untuk terus menerus dilakukan, tetapi juga harus lebih intensif, terprogram, dan berkesinambungan.   

Sebagai penerus bangsa tentu saja kita memiliki tanggung jawab terhadap bahasa Indonesia yaitu bahasa Indonesia yang telah berakar dalam diri rakyat Indonesia, bahasa yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia, dan bahasa yang menjadi lambang identitas bangsa Indonesia. Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa menempatkan bahasa pada fungsinya yang esensial, yaitu sebagai alat komunikasi. Setiap upaya yang disebut pembelajaran bahasa mesti mengacu kepada usah-usaha yang memungkinkan untuk bisa menggunakan bahasa dalam komunikasi. Dengan perkataan lain, kita telah dikatakan belajar bahasa jika kita telah mampu berbahasa, misalnya dapat membuat surat resmi atau surat tidak resmi, laporan, dan lainnya. Oleh sebab itu, keterampilan berbahasa harus kita miliki. Adapun keterampilan yang menjadi pondasi dalam berbahasa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut merupakan keterampilan berbahasa yang tidak terjadi secara instan, tetapi terjadi melalui proses belajar. Selain itu untuk bisa berbahasa dengan benar kita juga harus mengetahui dan mengenal unsur-unsur bahasa Indonesia.  
 
Pelajaran bahasa mempunyai nilai yang sangat penting bila dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran lainnya, karena bahasa itu akan menjadi kunci yang akan membukakan pintu yang akan dilalui oleh pelajaran-pelajaran lainnya. Pada umumnya orang yang kurang menguasai pemakaian bahasa memperlihatkan gejala-gejala mental yang kurang baik. Apabila kemampuan berbahasa kurang dimiliki akan menimbulkan sifat pemalu, pendiam, dan kurang dapat menyesuaikan diri dalam pergaulan.
    
Mengingat begitu penting keterampilan berbahasa, maka pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus dilakukan untuk menjaga kelestarian bahasa Indonesia. Hal itu dilakukan bukan hanya kewajiban semata, tetapi lebih karena bahasa Indonesia merupakan warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Bahasa yang dipilih dan diangkat dari salah satu bahasa bangsa sendiri, yang pemilikan dan pengangkatannya memerlukan kesadaran sebagian terbasar dari bangsa itu sendiri.   

Peningkatan kualitas berbahasa melalui kemampuan aplikatif-teori bahasa dalam berbagai wacana akan sangat membantu pengembangan bahasa itu sendiri, di samping akan menumbuhkan kepekaan rasa berbahasa juga akan menjadi salah satu faktor penentu dalam membentuk pribadi yang tidak lepas dari akar budaya bangsa itu sendiri.

Jayanto Arus Adi


Komentar Pembaca
Robohnya Pesantren Kami

Robohnya Pesantren Kami

RABU, 21 NOVEMBER 2018

Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018

Assalamualaikum Gus Yassin

Assalamualaikum Gus Yassin

SELASA, 11 SEPTEMBER 2018

Olah Raga Jadi Penanda

Olah Raga Jadi Penanda

MINGGU, 08 JULI 2018

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

SELASA, 19 JUNI 2018

Ironi Ibu Pertiwi

Ironi Ibu Pertiwi

SENIN, 23 APRIL 2018

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

4 Juta Orang Akan Hadiri Reuni Akbar Mujahid 212

RABU, 28 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Jangan Seret Jokowi Dalam Kasus Kemah Pemuda Islam 2017
Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

Jawaban Jokowi Jadi Olok-Olok

SELASA, 27 NOVEMBER 2018 , 21:00:00

Foto:Roadshow Bus KPK Di Semarang

Foto:Roadshow Bus KPK Di Semarang

SABTU, 13 OKTOBER 2018 , 13:18:00

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

Foto : Pemberangkatan Tim Porpov Tim Semarang

JUM'AT, 19 OKTOBER 2018 , 16:10:00

Harimau Bonbin Semarang Terlepas

Harimau Bonbin Semarang Terlepas

RABU, 05 DESEMBER 2018 , 19:34:00