SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

Catatan Jayanto  SELASA, 27 FEBRUARI 2018 , 12:17:00 WIB | OLEH: JAYANTO ARUS ADI

SBY Reborn, Kalkulasi Versus Spekulasi

Jayanto Arus Adi

 THIS IS MY WAR.  Kata kata itu keluar dari mulut Susilo Bambang Yudhoyono, tokoh yang akrab dipanggil SBY. Andai ucapan itu bukan datang dari mantan Kasospol ABRI di era Soeharto mungkin biasa biasa saja. Namun menjadi lain karena kini SBY termasuk salah satu begawan politik di negeri ini Setiap langkah politik putra asal Pacitan dan menantu Sarwo Edy Wibowo ini selalu  mencuatkan polemik di tengah publik.

Kita tengok ihwal meroketnya nama SBY di pusaran politik kala itu, ketika dia memutuskan lengser dari posisi Menkopolkam di era Megawati. Sebagai mantan Kasospol SBY tentu memiliki kalkulasi politik yang piawai. Sekali lagi ini adalah sebuah strategi penuh kalkulasi, jauh dari spekulasi. Artinya terukur secara obyektif langkah langkah yang ditempuhnya.

Namun niatan itu terbaca. Syahwat politik SBY terendus Megawati. Bahkan Mega pn akhirnya mencopotnya dari posisi Menkopolkam. Memang bagi peraih Adi Makayasa ini sekoci untuk menopang langkah politiknya telah disiapkan.

Pengalaman buruk yang dialami ketika kalah dalam voting untuk menjadi RI dua ketika itu benar-benar menjadi lecutan bagi SBY. Kalah bagi suami Kristiani Herawati ini adalah sukses yang tertunda. Dan itu terbukti, melalui Partai Demokrat menjadi jalan  berkontestasi dalam laga lanjutan berikutnya.

Adalah Vence Rumangkang, yang kemudian ditopang tim 9 meski jumlah personelnya ada 10 orang, yakni  (1) Vence Rumangkang; (2) Dr. Ahmad Mubarok, MA.; (3) Drs. A. Yani Wachid (almarhum); (4) Prof. Dr. Subur Budhisantoso (almarhum); (5) Prof. Dr. Irzan Tanjung; (6) RMH. Heroe Syswanto Ns (almarhum).; (7) Prof. Dr. RF. Saragjh, SH., MH.; (8) Prof. Dardji Darmodihardjo; (9) Prof. Dr. Ir. Rizald Max Rompas; dan (10) Prof. Dr. T Rusli Ramli, MS menjadi motor penggerak partai berlambang berlian segi lima ini.

Tak butuh waktu lama bagi SBY mewujudkan asanya menjadi RI satu. Pilpres 2004 adalah momentum bagi SBY, dan yang menjadi korban salah satu penyokong utama bagi pria terlahir 9 September 1949  ini, yakni Megawati Soekarnoputeri. SBY berduet dengan Jusuf Kalla yang punya pengaruh di Indonesia Timur. Megawati yang kala itu didampingi Prabowo Subianto tak banyak berkutik menghadapi determinasi SBY-JK yang cukup tangkas dengan jurus jurus pamungkasnya.

Indonesia dengan era SBY-JK di periode pertama, kemudian dilanjut dengan SBY -Budiono menandai babak baru politik yang mengandalkan kekuatan strategi. PDI Perjuangan sebagai pemenang Pemilu terpuruk menghadapi laga Pilpres yang tidak lagi berbasik pada fanatisme dan loyalitas belaka. Strategi tempur dan perencanaan yang nyaris sempurna terbukti lebih unggul dibanding  sandaran loyalitas semata.

Realitas ini yang kemudian menyadarkan partai partai politik mulai memodernisir diri. Tak lama setelah itu Prabowo turun gelanggang membesut Partai Gerindra, Wiranto membidani Hanura, belakangan menyusul Surya Paloh dengan Nasdemnya. Ini artinya apa? Pesan yang perlu diterjemahkan adalah demokrasi membuka ruang bagi siapa pun untuk andil di dalamnya. Tanpa Demokrat SBY kecil kemungkinan dapat menduduki kursi kepresidenan untuk dua periode.

 Begitu pun dengan Joko Widodo, apakah mungkin mantan pengusaha mebel asal Solo ini dapat menduduki RI satu, tanpa mendapatkan tiket dari PDI Perjuangan. Memang Joko Widodo ada beberapa perkecualian, pasalnya secara genetik Joko Widodo bukanlah bagian langsung dari dinasti Soekarno. Namun sosok Jokowi mampu meruntuhkan syahwat politik sang patron, yakni Megawati tidak lagi menggunakan hak prerogatifnya untuk maju menjadi capres.

    SBY Reborn

Strategi SBY dengan Partai Demokrat nya adalah pelajaran berharga bagi demokrasi di negeri ini. Ada dua pesan yang perlu dicermati di balik fenomena ini. Pertama, demokrasi bagaimana pun adalah pertempuran akal sehat. Loyalitas dan dukungan fanatik tidak cukup menjadi bekal menghadapi kompetisi yang semakin global. Jika pada Pilpres 2014 lalu Mega maju sendiri sebagai calon presiden, tidak ‘menugaskan’ Joko Widodo  bisa jadi hasilnya akan berbeda.

Ini artinya, Megawati sebagai patron di partai berlambang moncong putih untuk mengedepankan akal sehat. Meski tidak menjadi presiden, tokh Megawati memiliki pengaruh luar biasa bagi perjalanan politik negeri ini. Apalagi Jokowi sebagai wong Jowo tahu betul bagaimana mikul duwur mendhem jero, dan juga falsafah ing ngasro sung tulodho, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani,

Mega merasa nyaman dengan penugasan yang diberikan kepada Joko Widodo. Terbukti pada Rakernas lalu di Bali PDI Perjuangan telah resmi mengusung kembali Joko Widodo sebagai calon presiden 2019-2024. Langkah Mega dan juga sikap PDI Perjuangan adalah manifestasi nyata mereka belajar dari kesalahan masa lalu. Bagaimana pun kuatanya kharisma Megawati, namun menghadapi hajatan Pilpres sadaran loyalitas dan fanatisme saja tidak cukup menjadi jurus pamungkas.

Kedua, publik perlu mafhum dan cermat mendalami manuver manuver politik SBY. Diterjunkan Agus Harimurti pada Pilgun DKI lalu sesungguhnya adalah sasaran antara.. Langkah itu merupakan investasi awal SBY dan Partai Demokrat untuk mengarungi perjalanan politik lebih lanjut. Ada kalkulasi panjang, mengapa SBY mengambil keputusan itu. Tidak mungkin AHY, begitu putra sulung pasangan SBY-Ani Yudhoyono akrab di sapa ini dikorbankan begitu saja dari karier militernya.

Dalam strategi perang ada front front yang sengaja dilepas untuk memenangkan keseluruhan perang itu sendiri. Tampaknya mantan Kasospol era Soeharto ini sedang memainkan srategig ini. Dia tahu persis perang adalah menentukan goal dan sasaran. Sasaran tidak boleh berubah. Menyerang terus menerus, tidak boleh berhenti. Ketika ada serangan atur strategi, tunggu kesempatan menyerang balik. Kenali dirimu, kenali musuhmu, seribu kali perang seribu kali menang.

Nah, realitas inilah yang perlu menjadi renungan publik. Kompetisi parpol telah menjadi laga perang dalam tanda kutip para jenderal. Demokrat dengan SBY, Gerindra dengan Prabowo, Nasdem dengan IGK Manila, PDI Perjuangan ada Theo Syafi’I, Hanura ada Wiranto, PKPI ada Sutiyoso, bahkan partai baru, seperti Berkarya meski yang menjadi Ketua Neneng A Tuty, tetapi beberapa jenderal dan loyalis Soeharto ada juga di dalamnya.

Ini artinya kompetisi politik telah menjadi laga yang menakutkan. Betapa tidak, kehadiran sejumlah tokoh yang berlatar belakang militer akan mendorong adu strategi tak ubahnya perang. Permainan intelijen tidak bisa dielakkan. Ingat juga perang adalah kill or to be killed. Tentu tidak seteknis itu, namun militer bagaimana meniscayakan demokrasi. Dengan begitu kehadiran militer yang belakangan menjadi trend di jagad politik Indonesia adalah kecenderungan yang patut diwaspadai.

Menutup tulisan ini sebagai catatan kita perlu mencermati dinamika yang berkembang terkait langkah langkah politik yang diambil Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Kita paham, dan sadar sebagai politikus yang matang di dunia militer SBY adalah jago strategi. AHY sang putra bukan dikorbankan, namun sesungguhnya itulah cara SBY menempa untuk mengorbitkannya di episentrum politik Indonesia. Bagi AHY sendiri bekal yang dimiliki lebih dari cukup.

Kekuatan kapital sebagai putra mantan presiden dua periode tak perlu diragukan. Begitu pun networking yang dimiliki secara nasional, dan internasional  boleh jadi SBY lah yang nomor wahit. Dan jangan lupa secara intelektual menantu Sarwo Edi Wibowo ini memiliki kecerdasan di atas rata rata. Sejarah telah membuktikan untuk ini, apalagi daerah biru putra mantan Pangkostrad yang diwarisi melalui istrinya Ani Yudhoyono adalah kekuatan spiritual yang bagi masyarakat timur sangat memberikan pengaruh.

Jayanto Arus Adi


Komentar Pembaca
Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

Inilah Reality Show yang Sesungguhnya

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018

Assalamualaikum Gus Yassin

Assalamualaikum Gus Yassin

SELASA, 11 SEPTEMBER 2018

Olah Raga Jadi Penanda

Olah Raga Jadi Penanda

MINGGU, 08 JULI 2018

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

Lebaran, Mudik, dan Jokowi

SELASA, 19 JUNI 2018

Ironi Ibu Pertiwi

Ironi Ibu Pertiwi

SENIN, 23 APRIL 2018

Nasionalisme Indonesia : Heroisme vs Hororisme
Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Demokrat Akui Main Dua Kaki

Demokrat Akui Main Dua Kaki

SELASA, 18 SEPTEMBER 2018 , 11:00:00

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Siap Bela Rizal Ramli

SENIN, 17 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Foto Restorasi Candi

Foto Restorasi Candi

SELASA, 24 JULI 2018 , 19:07:00

Foto Memperbaiki Pipa Air

Foto Memperbaiki Pipa Air

SELASA, 24 JULI 2018 , 16:23:00

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

Foto Dampak Kenaikan Dolar Terhadap Harga Pangan

JUM'AT, 07 SEPTEMBER 2018 , 16:34:00