Napak Tilas Tempat Prostitusi Masa Lalu Kota Semarang (1)

Hukrim  KAMIS, 08 FEBRUARI 2018 , 17:42:00 WIB | LAPORAN: IMAM RAHMAYADI

Napak Tilas Tempat Prostitusi Masa Lalu Kota Semarang (1)
RMOLJateng. Bagi yang berkecimpung di dunia esek-esek Kota Semarang sekira tahun 1980-an, KASMO atau KANDANG KEBO tentu sudah tidak asing ditelinga. Bisnis birahi dengan segmen pasar kalangan masyarakat ekonomi bawah ini tak kalah ramainya dengan lokalisasi Sunan Kuning (SK) dan Gambrilangu (GBL).

Tempat lokalisasi Kasmo atau Kandang Kebo ini bahkan terbilang jauh dari kata Representatif, lantaran berada di  bantaran Sungai Kanal Banjir Timur yang saat itu masuk  Wilayah Kelurahan Muktiharjo Genuk. Di kawasan yang panjangnya hampir satu kilometer berjejer setidaknys 50 hingga 70 gubuk liar yang di dalamnya terdapat aktifitas tak lazim.

Perempuan menor, bau alkohol dan iringan musik dangdut lawas mengalun tanpa mengenal batas waktu. Apalagi saat senja merangkak malam, suara genit wanita di dalam gubuk liar menambah suasana Kandang Kebo semakin erotis.

Menurut penuturan Giyono mantan lurah Mukltiharjo Tahun 1993, saat dirinya menjabat, lokalisasi Kasmo atau kandang kebo sudah tidak ada.

Saya menjabat lurah di Muktiharjo, tempat ini sudah bersih, hanya ada bekasnya saja, sudah berubah menjadi PKL,” kenangnya.

Tapi soal cerita Kasmo, Giyono punya banyak cerita, maklum selain menjabat Lurah dirinya merupakan seorang Polisi Aktif, dari satuan Reserse saat itu masih bernama Poltabes Semarang. Pada eranya banyak Polisi/TNI aktif merangkap jabatan di Pemerintahan.

Giyono sendiri kepada RMOL Jateng mengaku sangat beruntung bisa menjadi saksi betapa Kasmo menjadi magnet tersendiri bagi berbagai kalangan.

Perihal nama Kasmo sendiri menurut penuturan Giyono berasal dari nama mucikari yang berasal dari kota Jepara dan mulai masuk ke Muktiharjo sekitar tahun 1980 an, saking terkenalnya,  para pelanggan akhirnya menambahkan nama Mbah Kasmo bagi pria yang saat itu berumur 50-an.

Boleh dikata mbah Kasmo ini merupakan Mucikari atau Germo yang banyak pelangganya, karena menyediakan wanita yang bisa diajak kencan. Sedangkan anak buah mbah Kasmo sendiri berasal dari berbagai daerah.

Bocahe mbah Kasmo semok-semok mas ketika itu, mereka dari berbagai penjuru kota, paling jauh dari Madura, pelayananya jos gandhos lhah,” ungkap Giyono.

Sedangkan jumlah anak buah mbah Kasmo yang ikut kurang lebih 25 orang. Mengenai tarif kencan saat itu menurut giyono berkisar antara Rp.15.000,- s/d Rp.25.000,-.

Yang 25 ribu itu sudah istemewa, lheb song pokoke,” tambah dia.

Selain musik dangdut bernuansa gambus untuk menemani kencan para tamu hampir semua di gubuk liar menyediakan Congyang dan Bir, untuk surunganya bermacam-macam. Di ujung gang Sawah Besar ada penjual iwak ulo dan mencawak. Sedangkan untuk RW (daging anjing) para tamu sengaja membeli di kawasan stadion Diponegoro.

Ada pengalaman lucu yang pernah Giyono alami saat melakukan razia ketika dirinya ditugaskan oleh kesatuanya di Poltabes Semarang saat itu. Giyono dan petugas Polisi lainya menemukan pasangan yang sedang berhubungan badan di bawah kandang kerbau yang tak jauh dari gubuk gubuk liar.

Menurut cerita Giyono, mereka yang tertangkap ketika sedang main” di bawah kandang kebo mengaku terpaksa melakukan di tempat itu lantaran sudah tidak tahan ,  karena jumlah bilik di gubuk liar terbatas.

Mungkin karena gubuk-gubuk liar itu berada di bantaran sungai dan banyak Kerbau yang dikandangkan, nama lokalisasi Kasmo lambat laun mempunyai nama lain yaitu Kandang Kebo.

Lebih lanjut Giyono menceritakan, bahwa selama dekade tahun 1980 ini Kasmo benar-benar membuat hingar bingar prostitusi di Kota Semarang dan menjadi magnet dan rasa penasaran.

Berbagai kalangan dan profesi mulai dari tukang becak, buruh bangunan, buruh pabrik sudah menjadi pelanggan tetap praktek protitusi liar ini. Bahkan kasmo ini tak mengenal waktu, karena pagi dan siang pun tetap buka.

Mereka yang pekerja lapangan sering mampir, untuk sekadar ‘melepas dahaga’,  cuci mata ataupun ingin merasakan sensasi anak buah mbah Kasmo yang saat itu ada beberapa primadona.”ungkapnya

Untuk mendapatkan Primadona itu, lanjut Giyono para pelanggan harus mruput datangnya kalau tak ingin kecewa. Dan hampir rata-rata primadona yang ada di lokalisasi ini dibawah kendali mbah Kasmo. Hngga tak mengherankan jika tadinya hanya mempunyai gubuk liar, saat itu mbah Kasmo sudah mampu membangun rumah sederhana.

Pembangunan rumah permanen dimaksudkan oleh mbah Kasmo sebagai komitmen memanjakan pelanggan tetapnya, disamping banyak komplain pelanggan karena bilik gubuk liarnya sering diintip oleh orang iseng saat anak buahnya sedang mashyuk ria di kamar.

Maklum belakang gubuk liar di sepanjang Sawah Besar merupakan tanah lapang yang menjadi bantaran sungai banjir kanal timur yang tidak ada penerangan sama sekali

Perkembangan Kasmo atau kandang kebo yang begitu pesat di era tahun 1980 menurut penuturan Giyono berdampak buruk pada lingkungan kampung Sawah Besar.

Betapa tidak, dengan adanya lokalisasi Kasmo tindak kriminal meningkat tajam, pemandangan orang minum congyang di pinggir tanggul sungai Banjir Kanal Timur, kasus penodongan dan pemalakan hampir tiap hari tersaji di wilayah Kasmo, sehingga warga takut untuk hanya sekedar melintas.

Lebih parahnya lagi lokalisasi Kasmo sering dijadikan rujukan bagi pelaku kejahatan untuk melepas penat dan ajang berpesta usai melakukan kejahatan.

Kawasan Kasmo pada eranya dulu termasuk tiga besar daerah yang ditakuti  masyarakat Semarang setelah Barutikung dan Krobokan. Selama 10 tahun berada di wilayah Sawah Besar, Muktiharjo, Kasmo sangat superior tanpa tersentuh oleh aparat pemerintah, padahal jelas Kasmo merupakan prostitusi liar dan ilegal dan sudah menjadi bisnis esek-esek yang sangat menggiurkan.

Perjalanan Kasmo selama lebih dari satu dekade akhirnya benar-benar harus berakhir, pada pertengahan tahun 1990 menjelang bulan Ramadhan. Ratusan warga Sawah Besar menumpahkan amarahnya dengan cara membakar semua gubuk liar termasuk merusak rumah Mbah Kasmo.

Apa yang dilakukan oleh warga ini sebagai puncak kekesalan dan amarahnya setelah dalam 10 tahun terakhir kampung Sawah Besar menjadi ikon daerah hitam dan abu abu.

Selama rentan waktu tersebut psikologi dan perkembangan anak anak Sawah besar mengalami tekanan yang luar biasa. Senjakalaning mbah Kasmo sebagai mucikari Kandang kebo telah berakhir.

Pasca pembakaran dan pengrusakan gubuk liar dan semi permanen, Mbah Kasmo pulang ke daerah asalnya, sedangkan para anak buahnya juga mengikuti jejaknya.

Sebagian lagi tetap masih menjajakan diri dan bergabung dengan para pemburu hidung belang lainya di Tanggul Indah alias TI,” ujar Giyono mengakhiri cerita.  [jie]



Komentar Pembaca
Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki

Indonesia Harus Belajar Dari Anjloknya Lira Turki

SELASA, 14 AGUSTUS 2018 , 19:00:00

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

Dikecewakan Prabowo, GNPF Ancam Golput

SELASA, 14 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Ahoker Ingin Dukung Prabowo-Sandi

Ahoker Ingin Dukung Prabowo-Sandi

SELASA, 14 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Foto Penghitungan Suara

Foto Penghitungan Suara

RABU, 27 JUNI 2018 , 14:40:00

TPS Horor Di Semarang

TPS Horor Di Semarang

RABU, 27 JUNI 2018 , 10:40:00

Pemadam Kebakaran Sirami Tanaman Kota

Pemadam Kebakaran Sirami Tanaman Kota

SENIN, 16 JULI 2018 , 17:03:00